Using the ‘us vs. them’ narrative from the social identity theory and relative deprivation theory to explain the long chain of events in history that fuel Islamic radicalism in Indonesia.

Illustration from The Centre for Independent Studies

How individuals view themselves and others play a pivotal role in a conflict. Whether in international politics and warfare or at a neighborhood-level conflict. This traditional ideological framework has been around for millennia, from ancient Greeks, ancient Chinese- with the whole concept of Huaxia identity to create a distinction between them and those deemed ‘barbarians’, to a very typical American conflict’s concept, the…


and a brief appearance of kaki lima.

When I was a kid, I always had this cocoklogi in mind. The word pedagang kaki lima (lit. five feet sellers), is rooted from the three wheels of the cart, plus two feets of the seller, I know it doesn’t make sense. Blame it all to Little Aurelia. The origin of the world kaki lima is so close with the development of shophouses in Southeast Asia, especially in Singapore, Malaysia, and Indonesia.

If you are wondering, “why so?”, stay tuned on this channel.

Ruko (rumah toko) or shophouse is an inseparable part of areas with a considerable amount of…


Fujianese brought China to the world, carried their provincialism identity to the Nanyang (Southeast Asia), and bless us with dishes like lumpia (潤餅), bakmie (肉麵,) bakut (肉骨茶), terang bulan or martabak manis (曼煎粿), and many more.

It all started when I get ethnically conscious as a Chinese, which not so long ago. I realized how most Chinese-Indonesian are either Hokkien, Hakka, Teochew, or Cantonese, or at least that’s what I observe from my surroundings.

The aforementioned groups came from a beautiful province in China, Fujian (Hokkien Province) and Guangdong (Canton Province), okay, if those two are Hokkien and Canton Province…


Sedari kecil, film-film kesukaan saya selalu melibatkan konflik mafia, bisnis gelap, suap-suapan dengan pemerintah dan aksi laga melompat, baku tembak à la John Woo, serta beladiri keren oleh pemeran utama saat menumpas abang-abangannya si om bos gembil yang mengerinyitkan dahinya tiap mengisap tembakau. Bertahun-tahun saya amat tertarik dengan topik relasi pebisnis besar dengan pemerintah, dan hari ini dengan antusias, seperempat mengantuk ditemani soundtrack dari trilogi Godfather oleh komposer Nino Rota, mari kita jelajahi dunia kroni di Asia Timur, khususnya di Korea dan Jepang.

Saat mendengar orang membicarakan kapitalisme, banyak dari mereka justru malah menjabarkan definisi kapitalisme kroni. Kapitalisme kroni, biasa…


Ditulis oleh Aurelia Vizal, disunting oleh Hafizh Mulia untuk dipublikasikan di Kontekstual.com

Belakangan ini, hal-hal menggemparkan, selain saya berhasil melewati seminggu tanpa bubble tea, kaki kiri saya yang terlindas Grabwheels oleh seorang pengendara tak bertanggung jawab (yang hanya cengengesan tanpa minta maaf), minuman beralkohol pertama yang saya teguk setelah dua setengah bulan, pertemuan tidak disengaja dengan tiga orang kakak kelas semasa SMA, dan bertemu sosok yang amat mirip (no-hoaks) dengan Cristiano Ronaldo di Indomaret, ada suatu cuitan yang menggemparkan linimasa Twitter, suatu akun milik seorang teteh yang diyakini bernama Fitri. Ia menulis bahwa dirinya baru saja mencuri earplug di Gramedia.


Tulisan ini juga diunggah di laman resmi Kontekstual dan dapat diakses di https://kontekstual.com/tentang-komodifikasi-kesakralan-moral-dan-batasan-pasar/

Salah satu ingatan masa kecil yang paling saya ingat adalah ketika saya berkunjung ke rumah sepupu yang jaraknya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Setiap datang, sepupu-sepupu saya sangat kreatif dalam memberikan permainan. Pernah suatu kali, kami berjanji untuk membeli barang-barang di warung depan rumahnya, lalu dijajakan kembali di atas meja lipat miliknya yang bergambar karakter Naruto dan putri-putri Disney.

Saat barang sudah dibeli, kami menatanya di meja yang sudah tersusun rapi di atas kasur. Ada beberapa meja dengan dagangan yang persis sama. Kami menulis harga untuk makanan…


Aurelia, 2017.

Bapak mencungkil engsel pintu dengan geraman kecil. “Ngapain sih, pakai pintu segala. Masuk ya, tinggal masuk!,” sambil tangannya cekatan ditemani palu. Hari ini aritnya ia tinggal di sawah.

Seharian ini mulutnya tak henti komat-kamit. Dari masalah kandidat presiden, panen beras, seragam anaknya yang robek, surat tagihan uang sekolah, hingga siaran televisi yang sering dikerubungi semut dan suara radar alien.

Ibu sedang mencuci pakaian di halaman belakang, dengan geram juga. Hari ini, ia merendam seraya memberikan sensasi massage untuk cuciannya. Tangan kurusnya memukul-mukul air di baskom berisi pakaian. Sempak suaminya ia lempar asal, “Nutup kemaluan apa. Malu juga sudah…


Sebagai penggemar sejarah Amerika Serikat, nama Hamilton kerap mondar-mandir di beberapa jurnal atau buku yang saya baca. Tapi tidak ada yang pernah membuat saya tertarik untuk menelaah tentang hidup atau kontribusinya lebih mendalam. Namanya, menurutku dulu, hanyalah nama yang terselip diantara nama-nama para Founding Fathers.

Sampai di suatu siang yang terik, saya memutuskan untuk mandi sepulang sekolah. Matahari sedang giat menghapuskan lagi sisa-sisa kesegaran di tubuh yang baru diguyur air dingin. Ck. Decak Aurelia Vizal waktu itu. Baru saja kelar mandi, saya kepanasan lagi, rasa gerah dan lembab mengganggu waktu santai hingga saya yang merasa lepek langsung mengambil handuk gambar…


Pukul 1 dini hari, hari sabtu di awal bulan Agustus 2019. Penulis menyenderkan punggung di tembok kamar tidur sambil berpikir kemana kedua ibu jari gabut ini harus diarahkan. Akhirnya, pilihan jatuh kepada memijit pelipis sendiri yang sedikit berkedut pusing, sembari memikirkan pemikiran kurang penting. Beberapa menit kemudian, kedua ibu jari penulis memutuskan untuk membawa dirinya ke tulisan-tulisan yang belum terselesaikan. Tulisan yang masih buntung, hasil malam-malam sebelumnya yang belum tuntas gelapnya.

Tulisan ini kompilasi dari semua yang berhubungan dengan kontradiksi. …


Versi yang telah diedit oleh editor di kantor (cc Kak Lisa) dan diunggah untuk situs Asumsi bisa dibaca disini, https://asumsi.co/post/judi-budaya-tionghoa-yang-kerap-dimanfaatkan-penguasa

Beberapa bulan yang lalu, saat saya masih menertawakan cabai di selipan gigi depan teman saya selama 20 menit non-stop (baca: hidup tanpa beban), saya dan kawan-kawan sering mencari makan sepulang sekolah. Pernah sekali, kami berjalan hingga ke gang-gang sempit kawasan Ketapang, Jakarta Barat. Kalau pembaca lumayan akrab dengan daerah sini, gang yang saya maksud adalah yang disebelah bangunan terbakar. Harum-harum masakan dari deretan belakang Gajah Mada Plaza hilang sejenak dari indra penciuman saya, yang kini tersisa hanya bau anyir darah…

Aurelia Vizal

A 19-year-old sleepyhead and an avid noodle lover. I rant, therefore I am.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store